Selasa, 03 Februari 2015

Terimakasih Pertamaku

Teruntuk tanggal 30 bulan Januari yang terlewatkan peluit pemulainya

Surat ini benar-benar surat pertama
cukup bingung juga untuk siapa kutujukan tadinya
tapi mengingat tanggal 30 jatuh di hari Jumat,
mantap kuniatkan surat ini untuk Engkau, Sang Pemilik Dermaga Pengharapan

Assalamualaikum,
Sudah sekitar 20tahun kurang lebihnya Kau menitipkanku pada persinggahan yang tak pernah habis keindahannya. Pemandangan hijau dengan stok udara segarnya, tepian laut yang tak pernah sepi deru ombaknya, juga manusia-manusia serta peradaban yang tak kunjung diam dengan geliatnya.
Di hari Jumat tapi beda tanggal pula kau memutuskan untuk akhirnya aku dapat melengkapi catatan kelahiran sipil kota tercintaku. Berbalut tangis yang pastinya juga doa, kumulai apa yang sudah kau suratkan padaku hari itu.

Lahir. Hidup.
Terimakasih yang tak kunjung habis, kuselipkan dalam ucap lidah dan batinku. Memulai segala sesuatunya memang gampang, menjalani dan mempertahankannya itulah yang penat luar-dalam. Tetapi dengan Ridha-Mu, kurakit rima langkahku agar senada, berirama. jatuh bangunku tidak pernah absen mewarnai kertas putih yang kadangkala bersemu atau justru menghitam berubah sendu. Kembali, Kau memutihkan kertas dan memenuhkan kotak pewarnaku lagi. 

Sekali lagi dalam hari ini, kuucapkan syukur tertinggiku. 
Dan akan berlanjut hingga jumlahnyapun tak sempat kuhitung, itu pasti.


Terimakasih, Sang Maha Pendengar yang Tak Pernah Lelah
dari perempuan pengadu disetiap malam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar